Friday, June 23, 2006

PILIH SENDIRI KEMATIANMU

Ditulis oleh : Ruli Amirullah

Ass Wr Wb...

Dear all,
Beberapa hari yang lalu teman akrab saya menelepon. Dia meminta maaf atas kesalahannya.
Saya tertawa mendengarnya. Sungguh! Karena dia selama ini memang sudah sangat akrab dengan saya, dan setiap pertemuan kami akan penuh dengan canda, bukan suatu pertemuan yang formal. Apalagi sampai saling meminta maaf. Mendengar permintaan maafnya, saya bertanya apakah dia sedang bercanda..
Tapi dia memang benar-benar meminta maaf...
Ternyata, malam itu dia sedang berada di bandara. Dia harus pergi ke Surabaya, sementara cuaca di bandara begitu buruk.

Ah, jadi itu sebabnya...

Memang melihat fakta belakangan ini, begitu banyak musibah yang melanda. Pesawat jatuh, pesawat tergelincir, kereta tabrakan, dll dll....
Dia pasti takut bila di tengah perjalanan, akan ada musibah..
Maut begitu dekat dengan kita. Tapi bukankah tanpa kecelakaan pun, tanpa musibah pun, tanpa bencana alam pun, kita pasti mati?
Mati adalah kepastian bukan?
Tapi mati karena kecelakaan, siapa yang mau..?

Saya jadi ingat lagi cerita dari Ustad Arifin Ilham..
Beliau suatu waktu harus pergi kekedalaman kalimantan, untuk mengadakan dzikir di tempat itu. Salah satu anggota rombongannya adalah gurunya (saya lupa namanya, tapi saya pernah bertemu dengannya. Orangnya sudah tua, tapi karisma-nya, Subhanallah, terasa begitu sejuk dan dingin...)
Untuk menuju pedalaman tersebut, mereka menggunakan sebuah pesawat kecil, yang isinya hanya 8 orang (sudah termasuk pilot). Karena kecilnya, maka gangguan cuaca sedikit saja sudah bisa membuat pesawat tersebut terguncang cukup keras. Dan saat itu, guncangan keras berkali-kali terjadi...
Alhamdulillah, akhirnya mereka semua bisa sampai dengan selamat di tujuan...

Singkat cerita, sang guru merasa kapok naik pesawat kecil tersebut dan meminta pulangnya nanti naik mobil saja, walaupun itu membutuhkan waktu tempuh yang lebih lama. Ustad Arifin tertawa mendengar permintaan tersebut dan berkata kepadanya gurunya, mengapa mesti takut? Bukankah kematian sudah takdir? Mengapa mesti takut mati?

Sang guru membenarkan ucapan muridnya tersebut. Memang kematian pasti terjadi. Dan saya bukan takut mati. Saya hanya tidak mau mati dengan penuh ketakutan..

Mati adalah kepastian..
Tapi bagaimana kita mati, masih merupakan pilihan...

....Coba teman-teman renungkan...

Misalnya kita ditakdirkan mati pada pukul 01.30 dinihari.
Kita memang tidak bisa memundurkan atau memajukan waktu kematian kita...
Tapi, kita sebenarnya bisa memilih tempat kematian tersebut!

Bila kita sering berbuat zina, mungkin pada pukul 01.29 kita sedang berada di kamar hotel dan sedang berzina dengan seseorang..
Dan tepat pukul 01.30 malaikat maut datang mencabut ruh kita.. dan kita saat itu sedang bergelimang dosa...

Atau bila kita sering mabuk, mungkin pada pukul 23.00 kita sedang meluncur ke sebuah bar dan kemudian memesan minum2an keras sampai mabuk..
Dan tepat pukul 01.30 malaikat maut datang mencabut ruh kita.. dan kita saat itu sedang bergelimang dosa..

Atau bila kita sering berjudi, mungkin pada pukul 23.35 kita sedang mengajak teman-teman kita untuk berkumpul di rumah dan kemudian bermain kartu sambil berjudi
Dan tepat pukul 01.30 malaikat maut datang mencabut ruh kita.. dan saat itu kita sedang berbuat dosa...

Atau, bila kita memang sudah sering berbuat baik,
Muingkin pada pukul 01.15 kita sedang mengambil air wudhu
Dan tepat pukul 01.30 malaikat maut datang mencabut ruh kita.. dan saat itu kita baru saja selesai mengucapkan salam di akhir sholat malam..

Atau mungkin pada pukul 00.00 kita sedang duduk berdzikir, merenungi dosa-dosa kita dan menangis karenanya..
Dan tepat pukul 01.30 malaikat maut datang mencabut ruh kita.. dan saat itu kita sedang sujud memohon ampun pada Allah...

Atau mungkin pada pukul 23.35 kita sedang membaca Al Quran
Dan tepat pukul 01.30 malaikat maut datang mencabut ruh kita.. dan saat itu bibir kita sedang membaca ayat-ayat Al Quran...

Kita tetap wafat pada pukul 01.30 dinihari..
Tapi kita bisa memperjuangkan saat sedang apa kematian tersebut datang...

Kita bisa mati kapan saja.. dinihari, pagi hari, siang hari, sore hari, malam hari, atau tengah malam...
karena itu, hiasilah waktumu dengan selalu mengingat pada Allah..
Insya Allah, saat kematian datang, kita sedang dalam mengingat Allah..
Lidah kita sedang menyebut namaNya,
Hati kita sedang mengingatNya..

Saya sering mendengar kematian seseorang yang begitu indah..
Ada yang sedang menjadi iman sholat jumat..
Ada yang sedang sholat tahajud..
Ada yang sedang duduk berdzikir sambil menunggu waktu sholat tiba..
Ada yang sedang sujud dan tak pernah bangun lagi...
Begitu indah...
Kepada orang-orang seperti itulah seharisnya kita "iri" karena kita belum tentu bisa seperti mereka..

Teman.. bisakah kita seperti itu...?

Thursday, June 22, 2006

Muhasabah Center Buka Mata Hati adalah suatu komunitas yang Insya Allah, kegiatannya adalah mengajak orang-orang untuk merenung

Merenung tentang kasih sayang Allah, merenung tentang dosa-dosa yang telah kita kerjakan, merenung tentang amal-amal yang belum kita kerjakan, merenung tentang masa depan di akhirat kelak, merenungi tentang Alam Semesta, merenungi untuk apa kita hidup dan mau kemana kita akhirnya…
Karena itulah namanya Muhasabah Center Buka Mata Hati, Pusat Perenungan, dengan menggunakan Mata Hati, dengan Membuka Mata hati..

Mengapa kami mengajak merenung?
Bukankah itu suatu kegiatan yang simple? Semua orang bisa mengerjakan kapan saja, dimana saja?
Benar.. tapi jika memang benar begitu, kapan Anda terakhir merenung tentang kasih sayang Allah? Tentang dosa-dosa kita? Tentang mengapa kita diciptakan? Tentang visi kita yang sesungguhnya?
Jawablah dalam hati, karena hati adalah tempat paling jujur di dalam diri anda..
Nah, jawaban jujur di dalam hati itulah yang menjadi alasan mengapa kami ingin mengajak kita semua merenung..

Dengan merenung, kita akan sadar siapa kita sesungguhnya. Sadar untuk apa kita hidup. Sadar akan betapa banyaknya kasih sayang Allah sehingga bahkan kita tidak akan pernah bisa menghitung apalagi membayar kasih sayang tersebut..